
Perkenalkan, namaku Andi Irham Marhamuddin. Teman-teman di sekolahku memanggilku Andi, sebenarnya panggilan kecilku adalah Irham namun, karena ada temanku yang bernama serupa membuatku mengubah panggilan menjadi Andi. Sungguh nama yang pasaran. Karena ini adalah biografi, aku akan menjelaskan asal-usulku. Aku terlahir di keluarga yang memulai kehidupan dalam keadaan pas-pasan. Ayahku awalnya adalah sosok pemuda miskin namun berbakat sehingga hidup mandiri dan berhasil menjadi guru di SMKN 1 Sumatera Barat. Ayahku orang jawa dan merantau ke Padang, bukan ke Riau, tepatnya di Taluk Kuantan diangkat oleh orang yang baik hati dengan keterbatasan hidupnya selama di Jawa. Ibuku orang Bugis, tepatnya di kota Pare-pare, beliau berasal dari keluarga terpandang ditandai dengan nama gelar " Andi " yang juga ada pada namaku " Andi " itu adalah gelar kebangsawanan darah Bugis. Meskipun demikian, aku bukan keturunan darah biru walaupun ibuku adalah keturunan bangsawan. Aku ini orang jawa, maksudku orang jawa yang terlahir di tanah Minangkabau. Aku menyukai orang minang, terutama dalam kekentalan slogan " Adaik basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah " menandakan orang minang memang bersendikan agama Islam. Terkait dengan hubungan ayah dan ibuku, mereka bertemu saat menimba kuliah di IKIP (Institut Keguruan Ilmu Pendidikan) yang sekarang bernama UNP. Ayahku tertarik pada ibuku sejak bertemu di dalam kegiatan Koperasi Mahasiswa. Ayahku termasuk orang yang sangat penting di Organisasi itu ditandai dengan Posisinya sebagai Sektertaris utama. Kesampingkan kisah asmara mereka.
Pada tahun 2000 mereka menikah di Padang dan tinggal di Komplek Unand. Aku masih mengingat dimana mereka menikah. Ayahku adalah orang yang pekerja keras, rela bekerja dengan gaji seadanya. Ayahku dan ibuku bekerja sebagai guru di SMK Dhuafa Padang untuk menabung biaya persiapan persalinan sebelum diriku lahir. Akhirnya pada Maret 2001, aku lahir walau dalam keadaan yang memprihatinkan. Ayahku membawa ibuku hanya dengan menggunakan sepeda dengan menitih hingga menuju Bidan terdekat. Beberapa tahun setelah kelahiranku, ayahku mendapat kontrak kerja dengan Igasar Semen Padang dan bekerja sebagai guru di SMK Semen Padang. Karir ayahku meningkat seiring dengan kelahiranku. Tiga tahun setelahnya, adik tengahku lahir. Ayahku diangkat menjadi PNS setahun setelahnya dan memiliki pekerjaan tetap hingga sekarang. Aku hidup dalam kasih sayang dan pengorbanan orangtuaku. Masa kecilku tidak sesedih kehidupan orangtuaku. Aku tetap bermain dengan teman masa kecilku dan dekat dengan mereka hingga suatu ketika mereka pindah rumah dan aku tidak dapat mengontak mereka.
2005 aku pertama kali menginjakkan kaki di Bukittinggi, ada kisah menarik dimana aku terpisah dengan orangtuaku karena rasa ingin tahu yang teramat mendalam dengan sebuah mainan yang ada di seberang jalan. Kala itu aku hanya memandang mainan itu yang berada di dalam panel kaca sebuah toko, ibuku menyangka aku sudah berada dalam mobil. Aku hanya berjalan menuju toko itu dan aku langsung sadar ada yang aneh, ibuku mana? Yang ku lakukan hanyalah menatap kosong lapangan di tiap sisi jam gadang hingga beberapa jam kemudian ibuku berlari memelukku dengan erat. Aku hanya bisa menangis saat itu, dengan kepolosan seorang anak kecil terhadap orang tuanya.
2006 aku pindah rumah di sebuah tempat yang tidak jauh namun satu komplek. Aku akhirnya memulai masa sekolah. Tak tanggung-tanggung aku memasuki markas polisi, TK Kemala Bhayangkari adalalah sekolah pertamaku yang terletak di Kelurahan Padang Besi. Dengan gagah berani aku memakai seragam layaknya seorang polisi. Masa sekolah yang menyenangkan. Selama di TK aku selalu dekat dengan sepupuku, dan tinggal di rumahnya. Bermain ps bersama dan bercanda bersama hingga datang saatnya mereka kembali ke kampung halaman orangtuanya di Pare-pare, Agustus 2008. Peninggalan yang aku bawa hanyalah PS 1 yang sudah rusak di tahun 2014.
2007 aku memasuki masa SD. Aku memasuki Sekolah Dasar Negeri 01 Bandar Buat. Sebelum itu aku pernah juga mendaftar SDN 04 Bandar Buat namun gagal karena masalah gaya menulis tangan kiri. Sekolah itu tidak menerima siswa dengan menulis tangan kiri. Aku berkembang dibidang teknologi setelah Pamanku (dari Ibu) memberiku komputer pertamaku. Mereknya SIMBADDA . Komputer ini menemaniku selama 10 tahun hingga tiba saatnya komputer ini tiba-tiba rusak. Entah mengapa aku mengerti setiap langkah-langlah dalam memperbaiki komputer itu. Pamanku mengapresiasi diriku atas prestasiku walaupun saat itu aku masih berusia 6 tahun. Aku sudah mengerti tentang mengetik Word, Excel dan Powerpoint yang dimana anak seusiaku saat itu belum tentu paham dengan apa yang aku lakukan.
2009, kelas 3 SD adalah saat yang diingat warga sumbar. Kala itu aku sudah pulang sekolah, tepatnya jam 3 sore. Aku kala itu membaca buku bahasa arab untuk anak-anak, tiba-tiba pada pukul 17.16 suara mobil truk.. Maksudku gempa datang mengguncang membuat kami terkaget-kaget, aku loncat-loncat untuk meredam getaran (menurut teori aku saat itu) menuju pekarangan rumah. Aku melihat bukit di arah selatan longsor membentuk seperti wajah manusia. Keesokan harinya, listrik padam dan telekomunikasi terbatas (hanya XL dan Telkomsel). Kami di rumah hanya bisa mendengar radio dari HP nokia yang sepertinya hingga sekarang tetap ada itu radio. Mendengar berita hanya dari itu. Lalu aku libur sekolah hingga tiga bulan lamanya.
2011, adalah saat aku mulai mengenal siswa dari SD lain. Aku mengikuti siswa berprestasi menuju SDN 20 Indarung. Faktanya SDN 20 Indarung adalah sekolah yang mendapat sokongan langsung dengan pihak PT. Semen Padang. Aku mengenal teman dari SD Semen Padang dan menjalani hubungan yang baik hingga sekarang. Namanya Hasbi Bagja dan Tan Emory. Selain itu aku juga mengikuti lomba semacam kuis seperti Rangking Satu. Acara itu terletak di kampus Universitas Eka Sakti jalan Ahmad Yani. Aku mengikuti lomba itu hingga bersisa sekitar 10 orang! Saat itu pula aku mengenal teman-teman lebih luas dari alam pikiranku.
2012, masa terakhir aku menuntut ilmu di SDN 01 Bandar Buat aku mulai memikirkan akan ke mana aku belajar setelahnya. Aku browsing internet tentang SMPN 8 Padang, lalu tentang SMPN 1 Padang. Aku mulai tertarik dengan Spendel (SMP 8) karena sekolah itu paling terdekat aksesnya dengan sekali naik angkot (RP. 2.000) lumayan dalam segi ongkos. Selain itu aku juga memikirkan kemana SMA ku dan kuliah ku saat masih SD. Aku malah berkhayal bahwa aku akan bersekolah di SMP 8 Padang lalu ke SMAN 10 Padang dan kuliah di ITB. Akal anak sd sudah jalan di tahun ini.
Bulan Mei, aku mengikuti tes masuk SMPN 8 Padang. Dalam tesnya ada 4 tahap, yaitu seleksi rapor, tes mandiri, tes komputer, dan terakhir tes psikologi. Aku lulus di semua tes itu membuat aku bisa bersekolah di SMP 8 yang kata orang saat itu adalah sekolah dengan berbahasa inggris. Awal-awal tahun aku kenal dengan banyak teman dari seluruh SD di kota padang. Namun aku kesepian karena hanya aku yang berasal dari SDN 01 Bandar Buat. Saat itu adalah perubahan mode dimana perkembangan sosial media meningkat pesat. Dan pada tahun ini pula aku mengalami kemunduran yang tidak terlalu tajam. Selama di sekolah ini, aku mengikuti ekskul marching band. Aku orang yang berbakat dalam bermusik perkusi selama 4 tahun. Awalnya aku tertarik untuk mengikuti olimpiade, namun membosankan saat itu. Aku memiliki teman yang sangat baik selama berada di Spendel. Hingga sekarang.
2016, aku memikirkan tentang ke mana SMA yang akan ku tuju, ada 2 pilihan : SMA 1 Padang atau SMA 10 Padang. Aku memikirkan tentang kemungkinan yang terjadi, jikalau aku mengambil smansa, maka akan besar pengeluaran orangtuaku untuk memberiku uang jajan (bisa bagus, bisa tidak untuk pribadi saya) dan akses yang sulit saat itu dimana tidak ada Go-Jek seperti sekarang. Aku lebih berat hati ke smanten dengan alasan akses yang mudah dan merupakan rayon SMPN 8 Padang. PSB telah dimulai, aku mengikuti tes mandiri dengan harap cemas aku dapat masuk. Sayang sekali, aku gagal dan tersungkur di urutan setengah dari jumlah pendaftar yang berkisar 1000-an. Aku tidak patah semangat, pasca UN berakhir aku kembali mengajukan tes Online dan Yosha! Aku akhirnya di terima pada urutan 72 dari 80 yang diterima! Saat ini lah masa karirku sebagai olimpian dimulai. Aku tertarik masuk olimpiade untuk mempelajari ilmu pemrograman agar tidak kesulitan saat aku kuliah di ITB nanti saat itu. Dan kupilih, ITB! Setahun kemudian aku mulai menyadari akan ketatnya memasuki kampus terbaik se-Indonesia itu dan mengubah haluan menuju ITS atas kemauan diriku setelah aku bertanya dengan alumni smanten yang telah kuliah di-sana. Agustus 2016 adalah karir pertamaku di Bidang Olimpiade Komputer, walaupun hasil yang ku dapat tidak terlalu memuaskan tapi aku bisa bertemu dengan banyak orang di sana. Januari 2017 adalah saat aku mengenal Sekolah se Sumatera Barat, aku diutus sekolah untuk mengikuti pelatihan Olimpiade GIE yang diadakan selama 4 hari bertempat di LPMP dekat UNP. Memang urusan luar untuk masuk ini lumayan sulit, setelah beberapa lama kami terkantung-kantung diluar akhirnya bisa masuk dan bergabung dengan teman-teman se-Sumatera Barat. Aku tidak terlalu terbiasa dengan orang asing pada awalnya karena kurang cakapnya diriku dengan mereka. Di sana aku mengenal teman-teman sesama olimpiade komputer.
Mengenai blog, aku memulai proyek ini sejak kelas 8 SMP saat dimana aku bergabung dengan klub IT. Awalnya aku tidak tahu apa-apa tentang blog hingga diajari bikin blog oleh guru TIK yang menjadi pembina klub itu. Untuk saat ini aku akan membuat tulisan walaupun untuk mengumpulkan ide yang lama.

1 Komentar
Haha... Kok ngakak baca tulisan "Sungguh nama yang pasaran".
BalasHapusJangan sungkan untuk mengomentari blog saya, jangan lupa klik like dan subscribe! Setiap saran dari Anda adalah kekuatan bagi saya dalam berkarya dengan blog ini.